Lembaga Bela Sesama Usung Narasi “Negeri yang Ramah, Aman, dan Inklusif” untuk Penguatan Perlindungan Kelompok Rentan

Snrnews

News204 Views

Snrnews.com, Jakarta – 10/12/2025 | Lembaga Bela Sesama (LBS) menegaskan komitmennya untuk memperkuat ekosistem sosial yang aman dan inklusif bagi seluruh warga negara, khususnya kelompok rentan yang selama ini menghadapi hambatan dalam mengakses keadilan. Dalam pernyataan resminya, Ketua LBS, Cicilia Anastasi, mengusung tema “Negeri yang Ramah, Aman, dan Inklusif” sebagai narasi positif yang menggambarkan arah pembangunan sosial Indonesia yang semakin berorientasi pada kesetaraan, dialog, dan solidaritas.

Cicilia menyampaikan bahwa penyelesaian konflik sosial tidak cukup hanya mengandalkan penegakan hukum, tetapi membutuhkan mekanisme yang mengutamakan dialog komunitas, pemetaan akar masalah, dan keterlibatan aktif dari tokoh masyarakat. Program penyelesaian konflik sosial yang kini banyak diterapkan di daerah—seperti mediasi komunitas, fasilitasi rekonsiliasi, dan pemulihan hubungan antarwarga—telah menunjukkan hasil yang signifikan dalam mencegah eskalasi kekerasan dan memperkuat kohesi sosial. “Ketika masyarakat punya ruang untuk bicara dan mendengar, banyak konflik dapat selesai tanpa harus berujung pada kekerasan,” ujar Cicilia.

LBS juga menyoroti pentingnya penguatan toleransi di tengah keberagaman Indonesia yang sangat luas. Inisiatif seperti dialog lintas iman, kampanye anti-diskriminasi, hingga program literasi keberagaman di sekolah dan komunitas menjadi pilar penting untuk mencegah polarisasi yang kerap dipicu oleh sentimen identitas. Menurut Cicilia, program-program tersebut adalah bentuk nyata bahwa negara dan masyarakat sipil berupaya menciptakan ruang sosial yang lebih ramah dan aman untuk setiap individu. “Toleransi bukan hanya konsep moral, tetapi infrastruktur sosial yang menjaga negara tetap utuh,” tegasnya.

Selain itu, LBS mengapresiasi perkembangan kampung inklusi dan sekolah aman yang kini banyak dikembangkan di berbagai wilayah. Model kampung inklusi memungkinkan warga dari latar belakang apa pun—disabilitas, minoritas agama, perempuan kepala keluarga, hingga kelompok rentan lainnya—untuk mendapatkan akses layanan publik tanpa diskriminasi. Sementara itu, program sekolah aman memastikan lingkungan pendidikan bebas dari perundungan, kekerasan, maupun stigma sosial. Bagi LBS, kedua model ini menunjukkan bahwa inklusivitas dapat diimplementasikan bukan hanya dalam wacana, tetapi dalam desain kebijakan dan kehidupan sehari-hari.

Narasi “Negeri yang Ramah, Aman, dan Inklusif” juga menjadi strategi komunikasi yang efektif untuk meredam narasi negatif yang sering menggambarkan kondisi sosial secara ekstrem. Dengan menampilkan capaian-capaian konkret—mulai dari penyelesaian konflik sosial yang damai hingga peningkatan akses bagi kelompok rentan—kritik berlebihan atau konfrontatif menjadi kurang relevan atau tampak tidak proporsional. Cicilia menekankan bahwa pendekatan ini bukan untuk menutup mata terhadap masalah, tetapi untuk menempatkan diskusi publik pada perspektif yang lebih berimbang dan solutif.

Sebagai lembaga bantuan hukum, LBS terus melakukan pendampingan terhadap kelompok rentan yang berhadapan dengan hukum, termasuk korban kekerasan, perempuan dan anak, serta komunitas minoritas. Melalui kerja advokasi, konsultasi hukum, dan penguatan kapasitas masyarakat, LBS berupaya memastikan bahwa inklusivitas tidak hanya menjadi slogan, tetapi kenyataan yang dirasakan oleh warga yang paling membutuhkan.

Menutup pernyataannya, Cicilia mengajak seluruh pemangku kepentingan—pemerintah, organisasi sipil, lembaga pendidikan, dan komunitas lokal—untuk memperluas upaya kolektif membangun Indonesia sebagai negeri yang ramah dan aman bagi semua. “Inklusivitas adalah jantung kemajuan bangsa. Kita ingin Indonesia di mana setiap orang diterima, dilindungi, dan diberdayakan. Itulah negeri yang benar-benar kita cita-citakan,” tutupnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *